Dawai-dawai Keberagaman

KARIM SURYADI

Peneliti Komunikasi Politik, Dosen FPIPS UPI, Kolumnis Pikiran Rakyat

DALAM enam bulan terakhir tema tentang toleransi, kebhinekaan, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi trending topics. Berbagai forum digelar, dan banyak tokoh angkat bicara, inti pesannya sama tentang pentingnya menghargai perbedaan. Kedatangan Raja Salman dari Arab Saudi pun dijadikan ajang pentas perayaan toleransi. Bukan hanya bertemu dengan beberapa pemuka agama yang ada di tanah air, kepada Sang Raja pun disuguhkan beragam realitas yang mencerminkan keragaman agama di tanah air.

Mengapa tema ini tiba-tiba digandrungi dan dikaitkan dengan keutuhan NKRI padahal negara-bangsa Indonesia dilahirkan dari rahim kebhinekaan, tumbuh, dan mengambil bentuk sebagai bangsa yang majemuk ?

Lebih aneh lagi, banyak tokoh menyerukan pentingnya perbedaan, namun membiarkan pihak-pihak yang mempersoalkan kebenaran di luar keyakinan yang diimaninya. Tindakan ini ibarat sseeorang yang bernafsu menebangi pohon, lalu naik ke atas “tunggul” (sisa batang pohon yang ditebang), dan beorasi tentang pentingnya reboisasi.

Celakanya pembelaan atas keyakinan yang dinodai dicap sebagai tindakan intoleran. Tidak boleh lupa, orang yang paling tidak agresif pun bila diserang akan balik memukul. Tindakan untuk meredam mereka yang terpancing sudah benar, namun kebenaran itu akan lengkap bila mengatasi agresor yang membangkitkan kebencian.

Apa yang terjadi belakangan ibarat seorang ibu yang mengompres dahi puterinya yang panas.  Tindakan mengompres, untuk sementara dapat menurunkan suhu tubuh, setidak-tidaknya suhu dahi sang puteri, namun tidak menyembuhkan demam yang diderita. Mengapa ?

Suhu tubuh yang naik bisa terjadi karena beberapa sebab, namun lazimnya karena virus yang menyerang organ tubuh. Virus inilah yang menyebabkan sakit (patogen), dengan gejala gelisah, suhu tubuh naik, nafsu makan berkurang, susah tidur dan gejala lain. Bila tindakan yang diambil hanya mengompres dahi, dan membiarkan virusnya berkembang biak, maka dapat dipastikan demam takkan hilang dan  kondisi tubuh akan memburuk. Daya tahan tubuh akan terganggu, beragam virus baru pun mudah masuk dan menimbulkan aneka penyakit.

Harus disadari keragaman yang menjadi landscape kebhinekaan bangsa ibarat warna-warni kelopak bunga yang mudah terkoyak. Untuk menjaganya tetap indah dibutuhkan ketelatenan untuk merawat. Seperti kata seorang teman pencinta bunga, tangkai bunga yang berduri isyarat untuk menyentuhnya dengan hati-hati. Sayangnya, selain mengundang mata yang mengagumi, warna-warni mahkota dan semerbak wangi bunga pun sering memancing ketergesaan, bahkan  mengundang hama.

Hidup tenang di tengah keragaman adalah dambaan setiap orang, namun harmoni sosial di tengah masyarakat majemuk bukanlah bentukan sakali jadi, atau tercipta berkat sim salabim. Membangun masyarakat majemuk adalah proses panjang yang hanya mengenal kata mulai namun tidak pernah mengenal kata akhir. Bukan hanya menguras kesabaran, tetapi menuntut usaha terus-menerus dalam mewujudkan tiga hal berikut.

Kesatu, membangun kecerdasan ekologis berupa kapasitas belajar sepanjang hayat dan bekerja sama dalam beragam cara untuk menumbuhkan kesadaran tentang konsekuensi logis dari apa yang dilakukan, keyakinan untuk berubah menjadi lebih baik, dan kesediaan berbagi pengalaman terbaik sehingga orang lain melakukan hal yang sama. Jadi, menjauhi dan tidak mengulang tindakan yang menyebabkan keretakan sosial adalah pondasi masyarakat manjemuk.

Kedua, berpikir dalam cara-cara orang lain berpikir. Inilah wujud empati yang sesungguhnya. Ibarat seseorang yang berumah kaca, jangan bermain batu. Setiap orang akan membela keyakinannya mati-matian jika dinodai,  karena itu jangan serang keyakinan orang lain karena mereka pun akan membelanya bahkan dalam cara-cara yang sesungguhnya tidak mereka sukai.

Ketiga, hubungan antarentitas yang berbeda diletakan di atas aturan sederhana: biarkan masing-masing berjalan menurut rutenya sendiri, jangan saling menabrak, meski sama-sama dipandu google maps. Memimjan kata-kata Kahlil Gibran, biarkan keragaman beriring seperti dawai kecapi, “sendiri-sendiri walaupun mereka berdenting dalam alunan musik yang sama”. Biarkan dawai-dawai keberagaman berbaris berdampingan dan melantunkan nada unik dan indah. Komitmen untuk mengikat kebersamaan di atas alas saling menghormati akan menjadikan keragaman sebagai sumber  kebaikan.

Sikap toleran dan saling menghormati hanya akan tumbuh di atas cinta dan saling mengasihi. Tanpa keduanya, toleransi dan saling menghormati hanya akan menjadi gincu pemanis bibir,  yang mengkilap dan menipu mata yang nanar, namun tidak mendatangkan manfaat apa pun. Karena itu, pupuklah sikap hormat, dan jangan menabur kebencian.***