Jihad

Oleh KARIM SURYADI

Peneliti Komunikasi Politik, Dosen FPIPS UPI, Kolumnis Pikiran Rakyat

Dalam suatu hari di bulan Juli 2007, Mark – seorang editor berita televisi, berkenalan dengan sejawatnya yang berasal dari Timur Tengah. Perkenalan terjadi sesaat sebelum pertemuan yang dipicu kekhawatiran meningkatnya ketegangan antara Barat dan Timur Tengah digelar di Dubai.

“Nama saya Mark,” katanya sambil menjabat tangan jurnalis Muslim yang berasal dari Timur Tengah.

Hello”, dia menjawab dalam bahasa Inggris dengan aksen Arab yang kental, sambil menyambut uluran tangan Mark, “saya Jihad”.

“Maaf”, seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya, Mark spontan berkata, “Saya tidak dapat menangkap dengan baik siapa nama Anda.”

“Jihad,” dia pun menuturkannya dengan lebih jelas.

“Senang bertemu dengan Anda,” jawab Mark sebelum berpindah dan memperkenalkan dirinya kepada peserta yang lainnya. Namun dalam hatinya dia berjanji untuk kembali menemui Jihad selama istirahat, untuk mencari tahu lebih dalam tentang namanya.

“Ini benar-benar nama yang sangat jarang, “ demikian pengakuan Jihad ketika ditanya lebih jauh tentang namanya. Dia mengaku dilahirkan tahun lima puluhan, dan banyak orang tua Muslim yang tertarik dengan nama itu.

“Mengapa mereka memilih nama itu ?”, Mark bertanya lebih jauh.

“Orang tua saya menginginkan anak-anaknya menjadi orang yang suka kerja keras dan unggul di sekolah. Jihad kurang lebih diterjemahkan sebagai kerja keras atau ketekunan. Itulah yang orang tua saya harapkan dari saya, sehingga mereka memberi nama itu.”

“Tapi bagaimana ?”

Jihad mengangkat tangannya dan tersenyum sebelum Mark menuntaskan pertanyaannya. Dia tahu apa yang akan ditanyakan Mark sebelum semua huruf keluar dari mulutnya.

“Kata ini telah dibajak oleh para ekstremis,” katanya. “Ketika aku lahir, jihad secara sederhana diartikan sebagai rajin, berbakti, dan mau bekerja keras untuk menjadi yang terbaik sejauh yang bisa dilakukan. Sekarang, di beberapa kalangan, jihad diartikan sebagai melakukan perang suci. Tapi, itu bukan arti asli dari kata itu. Jika ada orang yang mengetahui perbedaannya, itu adalah aku.”

Dialog tadi dituturkan Mark Gerzon dalam Global Citizens: Our Vision of the World, sebuah dialog yang mencerminkan kehati-hatian, sekaligus  empati dan pandangan penuh hormat atas realitas yang berbeda di luar diri dan lingkungannya. Kehati-hatian, pandangan yang empatik, dan tindakan menjauhkan prasangka adalah tiga dari sekian kaidah emas yang penting dalam memelihara kerukunan masyarakat yang majemuk. Demi menjaga kaidah emas dimaksud, melakukan konfirmasi atas fenomena yang ambigu merupakan tindakan bijak.

Bahasa sebagai representasi dari pikiran yang hidup kadang gagal melambangkan apa yang dimaksudkan. Kegagalan tadi lebih karena makna yang dilekatkan pada sebuah benda berbeda-beda. Bayangkan jika Mark atau siapa pun yang berkenalan dengan seseorang yang bernama Sabar, dan hanya menganggap orang sabar tidak akan pernah protes, bahkan ketika mendapatkan perlakuan tidak baik sekalipun, maka Sabar akan menjadi bulan-bulanan dalam setiap kesempatan.

Sayangnya kita sering terjebak pada pengalaman subjektif, atau pandangan etnosentrik, yang hanya memahami realitas dari sudut  pandang budaya sendiri, yang belum tentu sepaham dengan pandangan orang lain. Seperti pepatah, bagi seseorang yang hanya membawa payung dia hanya berharap datangnya hujan, begitulah jebakan pengalaman subjektif.

Memahami sesuatu dari perspektif orang lain, bagi sebagian orang, bukan perkara mudah. Tindakan ini tak ubahnya berjalan menggunakan sepatu orang lain, butuh kesadaran dan  latihan untuk membiasakannya.

Tidak banyak simbol yang mengandung makna “yang sudah digariskan dari sananya”. Selebihnya manusialah yang melekatkan makna pada simbol. Karena itu, disiplin melakukan konfirmasi (tabayun) adalah tindakan yang bijak.

Meski dipandu rambu-rambu agama, budaya, dan pendidikan, sejatinya orang memiliki kemerdekaan untuk memaknai sebuah simbol. Itulah sebabnya, meski umumnya orang memahami bunga sebagai “tanda cinta” seperti tercetus dalam pemeo “katakan dengan bunga”, namun Cataleya (diperankan Zoe Saldana) dalam film Colombiana justru menandai korban kejahatannya dengan bunga Cataleya (yang juga dipakai namanya), sebagai pesan “menuntut balas dendam” yang dikirim kepada Don Louis (Beto Benites), bos mafia asal Kolombia yang telah menghabisi orang tuanya.

Hubungan antaretnis, antaragama, dan realitas keberagaman lainnya hanya terpertahankan oleh komunikasi empatik, dan penampakan (appearance) masing-masing anggota komunitas yang tidak menonjolkan perbedaan. Dilihat dari sisi komunikasi, masalah dalam hubungan antaretnis dan agama hanya akan terjadi bila orang salah memahami simbol atau menyalahgunakan simbol.

Tindakan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mensitir Surat Al Maidah dalam pidatonya di Kepulauan Seribu, yang dinyatakan pengadilan sebagai tindakan bersalah dan reaksi yang muncul atas vonis tersebut, memberi pelajaran tentang pentingnya kehati-hatian dalam memahami simbol agama atau entitas budaya yang berbeda. Pepatah yang dipungut dari dunia kesehatan berlaku di sini, bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati.

Bahasa selain merepresentasikan pikiran yang hidup, juga sering dipakai sebagai alat dominasi. Bahasa pun bisa menyatukan, atau memecah belah sebuah bangsa. Semuanya berpulang kepada itikad penggunanya.

Satu hal yang pasti, makna sebuah kata atau simbol tidak sebening kristal. Atas dasar ini, sekali lagi melakukan konfirmasi, dan rasa hormat pada entitas yang berbeda menjadi langkah bijak. Inilah kaidah emas yang diperlukan dalam merawat harmonisasi sosial, sebab bisa jadi orang berpidato tentang pentingnya penghijauan sambil berdiri di atas batang kayu yang ditebang.***

 

*) Tulisan ini pertama kali dimuat di Kolom Pikiran Rakyat, www.pikiran-rakyat.com 16 Mei 2017