Komunikasi Ki Sunda

SUWATNO

(Guru Besar Komunikasi Organisasi, Dosen FPEB UPI, Kaprodi Pendidikan Ekonomi Sekolah Pascasarjana UPI)

MASYARAKAT Sunda memiliki jati diri khas yang berbeda dari suku lain di Indonesia. Silih asah, silih asih, dan silih asuh sangat pas menggambarkan karakter Ki Sunda. Warga masyarakat Sunda saling mengingatkan, saling menyayangi, dan saling melindungi. Karakter seperti inilah mestinya dikedepankan dalam menyelesaikan berbagai masalah yang muncul di Jawa Barat khususnya, maupun berbagai masalah di tanah air.

Demikian juga pemilihan umum kepala daerah di Jawa Barat 2018, kedamaian yang khas ini harus dipertahankan. Jika Ki Sunda kehilangan jati dirinya, maka tak mustahil, Pemilu Gubernur Jabar tak berbeda dengan Pemilihan Presiden RI maupun Pilgub DKI Jakarta. Jika Pilgub Jabar gaduh dan penuh caci maki sebagaimana yang terjadi di Ibu Kota, maka sejatinya Ki Sunda telah tercerabut dari akarnya. Maka, apa pun agendanya, kita harus mempertahankan jati diri kita sebagai masyarakat religius, ramah, santun, dan saling menyayangi.

Pilkada secara langsung tak bisa dilepaskan dari kontestasi. Meskipun harus bersaing, para aktor politik harus tetap Nyunda.Setiap kandidat boleh merasa terbaik, tapi tidak boleh menjelek-jelekkan lawan. Apalagi menebarkan fitnah dan hoax melalui media. Berkomunikasi sebagai Ki Sunda berarti seluruh aktor politik dan masyarakat bertindak sportif. Mereka harus bisa mengatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Para calon maju sebagai ksatria, meraih kemenangan dengan rendah hati, dan menerima kekalahan dengan lapang dada.

Turunnya Surya Paloh menjemput Ridwan Kamil sebagai bakal calon Gubernur Jabar 2018-2023 dari Partai Nasdem sempat menimbulkan tanda tanya, haruskah iklim pemilu di Jakarta menular ke Jawa Barat? Itulah sebabnya, begitu Emil-Paloh mendeklarasikan pencalonan, jagad maya langsung gaduh. Bahwa bakal calon merupakan paket politik tak terpisahkan dari pusat, mungkin tidak bisa dielakkan. Tapi siapa pun yang mampu memberikan kesan tampil mandiri memiliki nilai lebih daripada mereka yang menjadi subordinasi politik pihak lain.

Agar citra kembali pulih, Ridwan Kamil harus berani mengambil jarak dengan politik pusat. Secara substantif memang tidak bisa dilepaskan dari politik Jakarta. Namun yang lebih penting, masyarakat jangan sampai menonton kontestan saling menjatuhkan dan saling menikam dengan segala cara. Saatnya Ki Sunda tampil di garda paling depan sebagai penyelamat bangsa dan negara dengan menjadi teladan. Sekarang waktunya bagi masyarakat Jawa Barat memperlihatkan politik santun dengan saling menghargai dan saling menghormati. Keberhasilan Pilgub Jabar dapat menjadi standar dan prototipe agar pemilu di tempat lain berlangsung secara smooth juga.

Kalau perlu, lakukanlah pertemuan tertutup di tingkat elite. Bukankah politik intinya adalah kompromi? Kekuasaan bisa dibagi secara damai. Sampaikanlah secara bentes keinginan masing-masing pihak tanpa perlu ditutup-tutupi, toh mereka berada di forum tertutup. Kalaupun saling caci maki, lakukanlah di forum ini. Jangan pertontonkan konflik di mata publik. Sebab, masyarakat merupakan “pembelajar” yang baik. Konflik di tingkat elite kerap diviralkan pada tatar akar rumput.

Angkatlah para sesepuh kita untuk memimpin rapat forum tertutup itu. Sejumlah tokoh yang pantas masuk, misalnya, Ceu Popong Otje Junjunan; Tjetje Hidayat Padmadinata; K.H. Abdullah Gymnastiar; K.H. Miftah Faridl; Prof. Dr. Didi Turmudzi; dan tokoh lain yang mampu menciptakan iklim sejuk. Kalau perlu, bagilah kekuasaan secara elegan dalam forum tersebut. Misalnya, silakan Ridwan Kamil maju menjadi Gubernur Jabar, yang lain membantunya agar berhasil. Sementara Ibu Nety Primaniati menempati kursi yang ditinggalkan Emil sebagai Wali Kota Bandung. Tokoh lain yang mempunyai kapasitas dan kapabilitas bisa didistribusikan pada jabatan eksuketif lain atau di legislatif.

Silakan ajukan argumen masing-masing. Misalnya, Emil wajar maju sebagai Gubernur setelah berhasil menyelesaikan masa jabatan pertama sebagai wali kota. Sementara Ibu Nety perlu praktik kepemimpinan terlebih dahulu sebagai Wali Kota Bandung. Jika sudah terbukti kualitasnya, periode berikutnya bisa maju menjadi Gubernur Jawa Barat. Pada saat bersamaan, jika Ridwan Kamil berhasil menjadi gubernur, bisa diproyeksikan sebagai pemimpin di pemerintah pusat. Minimal menjadi menteri, syukur menjadi Presiden RI.

Sekali-kali jangan pertontonkan politik main kayu. Indonesia dalam kondisi kritis dan rawan etika-moral. Ki Sunda harus berani mengambil terobosan, membangun langkah konstruktif membangun negeri dengan mengedepankan uswah hasanah, teladan yang baik. Teladan ini akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir bagi Ki Sunda. Sebaliknya, jika Ki Sunda ikut-ikutan berpolitik gaduh, berarti Ki Sunda turut andil meruntuhkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Maka pilihlah membangun amal jariyah.wallahu a’lam bishawab ***