Komunikasi Santun

SUWATNO

(Guru Besar Komunikasi Organisasi Universitas Pendidikan Indonesia, Dosen FPEB UPI, Ketua Program Studi Pendidikan Ekonomi Sekolah Pascasarjana UPI)

PEMILIHAN Umum Kepala Daerah digelar serentak, 15 Februari 2017 di semua provinsi dan kabupaten/kota yang tahun ini mendapatkan giliran. Pilkada ini tidak perlu dihadapi dengan suasana genting dan mencekam manakala semua pihak menjalaninya secara tulus untuk mengabdikan diri kepada bangsa dan negara. Siapa pun yang menang, hakikatnya, mereka ingin menyejahterakan rakyat demi kebahagiaan yang sama. Kalau ada calon kepala daerah yang menyebabkan disintegrasi bangsa, toh seluruh bangsa Indonesia sepakat, “Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Harga Mati.”

Bersikap optimistis dapat menempatkan hati kita lebih tenang dan tenteram. Kita harus yakin, Indonesia akan menjadi negara maju sebagaimana pernah diraih negara-negara maju sebelumnya. Kita akan menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi dengan tingkat kesejahteraan rakyat terbaik di dunia. Kita akan menjadi negara dengan pemimpin yang adil dan rakyat yang makmur. Jika sekarang terasa “gelap”, yakinlah dinamika kehidupan berbangsa dan bertanah air yang terasa pahit saat ini merupakan masa transisi dari bangsa berkembang menuju negara maju yang diridhai Allah SWT.

Meski demikian, semua pihak harus waspada, sebab godaan kehidupan berbangsa dan bertanah air tidaklah kecil. Alih-alih segera berubah dari negara berkembang menuju negara maju, kadang terasa, negeri ini mundur beberapa puluh tahun ke belakang, seperti mau kembali menjadi negara terjajah. Na’udzubillah min dzalik. Kita tidak mau lagi menjadi negara terjajah. Undang-Undang Dasar 1945 yang menjadi dasar konstitusi kita sudah menetapkan, penjajahan di atas bumi harus dihapuskan. Allah menciptakan segala sesuatu tidak pernah sia-sia. Jangan-jangan, rasa takut kembali dijajah yang menghantui kita justru menjadi perekat seluruh komponen bangsa untuk kembali bersatu setelah bercerai-berai.

Tanpa disadari, bayangan akan kembalinya Indonesia menjadi bangsa terjajah menyebabkan tumbuhnya nasionalisme di hati bangsa Indonesia. Mereka yang tadinya tidak peduli justru semakin memperhatikan keadaan tanah airnya. Generasi muda yang tadinya apatis justru semakin mencintai tanah kelahiran beserta seluruh kekayaan alamnya. Semua gangguan dan godaan malah berubah dari ancaman menjadi peluang. Semua rintangan kali ini mudah-mudahan menjadi momentum bersatunya seluruh komponen bangsa.

Bersatunya hati semua komponen bangsa yang prihatin akan masa depan negara harus dikelola agar menjadi sesuatu yang lebih produktif. Misalnya, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang kompetitif, membangun ekonomi masa depan yang lebih digdaya, membangun ulang sistem budaya yang berbasis nilai lokal tapi terbuka bagi kemajuan, dan berbagai program lainnya. Intinya, masa krisis merupakan masa penting menuju perubahan. Jika tidak terkendali, masa krisis berubah menjadi bencana. Tapi dengan kesadaran semua komponen bangsa disertai doa yang tiada henti, maka kita berharap masa krisis segera berakhir dan kemudian menuju iklim yang lebih kondusif bagi perbaikan masa depan.

Modal yang kita miliki adalah, semua orang selama ini keukeuh ingin NKRI dengan semboyan, “NKRI Harga Mati”. Semboyan tersebut mestinya diikuti dengan perilaku dan komunikasi yang santun. Bukan sebaliknya, ingin mempertahankan kesatuan dan persatuan dengan kebenaran tunggal, kebenaran diri sendiri. Yang lain salah dan jelek. Apalagi ungkapannya disertai dengan caci maki dan bully. Bagaimana mungkin NKRI dapat dipertahankan? Maka, mempertahankan NKRI harus dilakukan dengan komunikasi yang santun, saling menghargai, dan saling memberi.

Mari kita mempertahankan sifat bangsa Indonesia yang santun dan religius. Sifat ini merupakan karakter asli bangsa Indonesia. Kalau kita berubah menjadi beringas dan mengabaikan kultur yang ada di masyarakat, berarti kita telah tercerabut dari akar budaya kita sendiri sebagai bangsa Timur. Perbedaan dan masalah sesungguhnya selalu muncul setiap waktu dan setiap tempat. Meski demikian, besar atau kecilnya perbedaan dan masalah tidak menentukan penyelesaian.

Solusi masalah harus dilakukan dengan komunikasi yang baik, yakni menggunakan bahasa yang santun dan perilaku yang lembut. Sebesar apa pun perbedaan dan persoalan, jika semua pihak menyadari perlunya penyelesaian bersama, maka semua dapat diselesaikan. Sebaliknya, sekecil apa pun persoalan, kalau diselesaikan dengan perilaku yang kasar dan ugal-ugalan, maka persoalan bukan selesai, melainkan menumpuk persoalan di atas persoalan.

Penulis setuju Indonesia sebagai negara hukum, namun setiap peroalan tidak harus dibawa ke ranah hukum. Sedikit-sedikit lapor polisi, sedikit sedikit maju ke meja hijau. Lakukanlah secara betahap, kita coba selesaikan masalah dengan bermusyawarah, saling mendengarkan argumen saudara kita sebangsa dan setanah air. Kalau memang salah, maka saling meminta maaf. Tapi kalau sama-sama benar, mengapa harus berkonflik? Damai itu indah.***