Cecep-Darmawan

Kontroversi Full Day School (FDS)

Cecep Darmawan

Pusat Pengembangan Kebijakan Publik, Inovasi Pendidikan dan Pendidikan Perdamaian

Universitas Pendidikan Indonesia

Email: cecepdarmawan@upi.edu

Gagasan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy tentang “full day school” (FDS) khususnya bagi siswa Sekolah Dasar  (SD) dan Sekolah Menengah Pertama. (SMP) mengundang kontroversi. Pro dan kontra atas diskursus ini merebak baik pada kalangan masyarakat biasa maupun para akademisi. Berbagai argumentasi pun bermunculan, baik yang setuju secara utuh, setuju dengan berbagai catatan, maupun yang menolak sama sekali. Sebenarnya apa dan bagaimana FDS ini? Dan bagaimana FDS kaitannya dengan pendidikan karakter selama ini?

 Wacana FDS dalam kontek pendidikan karakter menarik dicermati. Banyak pihak yang salah mempersepsi FDS. Bahkan ada yang menyamakan FDS dengan sistem boarding school atau sekolah berasrama.

FDS selama  ini diyakini sebagai salah satu implementasi model pendidikan karakter dengan mengembangkan konsep multiple intelligences system yang menekankan pada aspek life skills, softskill, dan mempertautkan ilmu, akhlak/moral, sikap dan contoh keteladanan melalui pembiasaan dan role model di dalamnya. Dalam tataran implementasi, FDS ingin menerapkan konsep integrasi atau penyatuan kemampuan dasar kecerdasan siswa (IQ, ES, dan SQ)  agar terjadi sinergi unsur-unsur akal, hati, dan perbuatan atau 3 H (head, heart and hands) sehingga tercipta pribadi siswa yang ilmiah, edukatif, religius, dan memiliki wawasan kebangsaan. Oleh karena itu,  sekolah yang berbasis FDS biasanya melakukan semacam tes multiple intelligences research, yakni suatu tes yang bertujuan untuk mengetahui entry behavior  siswa dan sejauhmana potensi kecerdasan siswa yang berbeda-beda atau beragam tadi dapat dioptimalkan dalam program FDS.

FDS merupakan model program pendidikan persekolahan yang proses pembelajarannya dilakukan di sekolah sepanjang hari, melalui kurikulum yang terintegrasi baik dalam kegiatan kurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler. FDS melekatkan seluruh aktifitas, program, dan pengelolaan pendidikannya  dilakukan secara  terintegrasi, terpadu, dan holistik. Peserta didik tidak hanya terlibat pembelajaran pada kegiatan kurikuler di kelas tetapi juga dipandu oleh para guru melakukan aktifitas kokurikuler dan ekstrakurikuler di luar kelas. Pembelajaran di luar kelas dilakukan dengan prinsip bahwa belajar itu menyenangkan. Belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar dengan menerapkan prinsip learning by doing agar terjadi proses habituasi atau pembiasaan yang baik melalui  joyfull learning.  Intinya sekolah menjadi rumah kedua bagi siswa sehingga siswa berada di sekolah serasa rumahnya. Siswa pun diajari berbagai kreatifitas, praktek-praktek ibadah sesuai dengan agama dan keyakinannya, bergaul dan bersosialisasi sesama peserta didik, dan  bermain (game) sampai sore hari serta aktifitas positif lainnya sesuai kebutuhan. Istilah sepanjang hari bukanlah dimaksudkan seperti boarding school yang notabene siswanya tinggal di asrama semacam pesantren.

Tujuan FDS bukanlah sekedar wahana menampung siswa agar tidak keluyuran di luar rumah setelah selesai belajar di sekolah. Apalagi hanya mengisi waktu tunggu ketika orangtua mereka masih belum pulang dari kerja, yang kemudian mereka dapat pulang bersama-sama orangtuanya sebagaimana dilontarkan oleh Mendikbud.

Setidaknya ada beberapa argumentasi yang melandasi model pendidikan FDS ini.. Pertama, banyaknya pengaruh negatif dari lingkungan di luar sekolah. Fakta membuktikan  kerapnya kejadian tawuran antarpelajar dan kasus narkoba yang melibatkan sejumlah siswa, sungguh mengkhawatirkan orang tua. Waktu luang di luar jam sekolah bagi sebagian siswa  manakala tidak dimanfaatkan dengan aktifitas positf dan jauh  dari pengawasan orang tua, serta pengaruh negatif media sosial sangat rentan tergoda ke arah prilaku yang negatif.

Kedua, model FDS, bisa memadukan  ranah kognisi atau pengetahuan dengan pembinaan aspek afeksi dan psikomotorik melalui praktek. Waktu yang panjang di sekolah dapat memungkinkan anak didik belajar secara penuh, bukan saja secara teori tapi juga dapat meimplementasikanya melalu praktek keseharian di sekolah. Dengan demikian FDS dapat menanamkan materi pendidikan karakter secara komprehensif, berkenaan dengan unsur pengetahuan tentang yang baik (knowing the good), tindakan yang baik (doing the good), dan unsur motivasi internal dalam melakukan yang baik (loving the good) (Thomas Lickona, 2006). Pengembangan knowing the good, doing the good, dan loving the good dalam program FDS amatlah penting dan menjadi salah satu keuanggulan FDS.

Ketiga, model FDS, membantu bagi para orang tua siswa yang keduanya bekerja sampai sore.  Bisa jadi, sejumlah siswa  dapat berangkat dan pulang sekolah bersama-sama dengan orang tuanya. Posisi orang tua yang minim waktunya untuk mendidik dapat terbantu dengan program FDS. Oleh karenanya tidak heran, jika sekolah berbasis FDS kerap menjadi rebutan bagi para orang tua perkotaan untuk menyekolahkan anaknya.

Meski begitu, FDS juga tidak luput dari kritikan. Bahkan sebagian kalangan memandang FDS sebagai “penjara” kreatifitas, merampas kemerdekaan anak-anak,  dan menghasilkan anak-anak asosial. Tentu saja tudingan ini, bukan tanpa alasan. Banyak sekolah yang justru kurang memberikan kenyamanan bagi siswa bahkan membosankan. Begitu pula, kepuasan peserta didik menerima pelajaran di sekolah masih dipertanyakan dengan maraknya mereka ikut bimbingan belajar (bimbel) di lembaga-lembaga pendidikan komersial.

Oleh karena itu, kebijakan pendidikan yang dilontarkan oleh Mendikbud, secara substantif memang baik, namun implementasinya harus selektif dan dikaji terlebih dahulu secara secara komprehensif.  Penerapannya pun dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan pendanaan pemerintah, sarana parasarana sekolah, kesiapan psikologis orang tua, dukungan masyarakat sekitar, kesiapan para pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah, kelayakan insentif bagi guru, dan berbagai faktor lainnya yang berpengaruh terhdap penyelenggaran FDS. Harus juga dipikirkan bagaimana eksistensi sekolah-sekolah diniyah atau TPA yang penyelenggarannya di sore hari. Jangan sampai keberadaan sekolah diniyah dan TPA malah tergeser dan bubar.

Disamping itu, agar pembelajaran FDS berjalan dengan baik, selayaknya menggunakan inovasi dan strategi pembelajaran yang siswa sentris dan menyenangkan serta menjauhi suasana pembelajaran yang menjenuhkan atau membosankan. Dengan sistem FDS seperti ini, diharapkan tidak hanya dapat meningkatkan kognisi, afeksi, dan psikomotorik siswa tapi juga sekaligus terjadi internalisasi nilai-nilai dan karakter positif pada  diri siswa secara utuh.