Kotak Pandora Pilkada

Oleh KARIM SURYADI

Peneliti Komunikasi Politik

Dosen  FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia

MENGGANTI presiden, gubernur, bupati/wali kota, rektor, dekan, bahkan ketua rukun warga (RW) dan rukun tetangga (RT)  secara teratur adalah sebuah kebutuhan. Bahkan menurut  Jose Maria De Eca De Queiroz, seperti disitat  Sanford L. Jacobs dalam The Little Black Book of Political Wisdom, 2014), mengganti pemimpin secara teratur sama niscayanya dengan mengganti popok (diapers) untuk alasan yang sama.  Sayangnya, mengganti pemimpin sering tidak semulus “prosesi” penggantian popok. Kegaduhan hingga konflik sosial kerap mengiringi proses penggantian pemimpin.

Sudah bukan rahasia, pemilihan umum (pemilu) untuk semua jabatan politis tak ubahnya membuka kotak pandora. Begitu tahapan pemilihan dibuka, beragam keburukan pun mencuat: caci maki, saling hujat, menebar kabar bohong penuh kebencian, hingga fitnah. Seorang teman berseloroh, bila Anda ingin tahu kejelekan seseorang, tunggu sampai ia mencalonkan diri. Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan pun dituduhkan secara sistematis dan berulang sehingga seakan-akan benar adanya. Masa sampai “segitunya” ?

Bila ketika pemilu tak sungkan menyakiti, bahkan merendahkan martabat kemanusiaan, lalu apa yang akan tersisa pasca pemilihan ? Bila peserta pilkada saling buka cela dan aib, lalu apa yang akan terbentuk dalam  benak publik selain pandangan politik itu kotor dan pemainnya bukan orang jujur ?

Uji Maslahat

Sebuah persaingan merebut jabatan publik tidak selamanya berisi kontes adu manis, seperti pertarungan antara Purbasari dan Purbararang dalam cerita pantun Lutung Kasarung, yang berebut tahta ratu lewat kontes “ketampanan” lelaki pujaan mereka. Kontestasi demokratis pun menyediakan ruang untuk saling serang, namun tidak untuk “mencederai” lawan. Agar saling serang mendatangkan maslahat, maka ketiga hal berikut harus menjadi kendalinya.

Kesatu, saling serang hanya dilakukan dalam bentuk  adu ide, gagasan, dan program dengan data, fakta, dan pengalaman sebagai pelurunya. Dengan begitu, pemilih bisa membandingkan ide mana paling mungkin, gagasan mana paling masuk akal, program mana yang mungkin diwujudkan, sekaligus membedakan tawaran jalan perubahan yang mendekatkan pada tujuan atau perjudian semata.

Data, fakta, dan pengalaman kandidat dalam menangani sebuah urusan adalah sebuah lakmus yang membedakan  keinginan dan angan-angan. Sebuah keinginan yang tidak disertai cara mewujudkannya adalah angan-angan belaka. Bila kandidat menjanjikan sebuah program namun tidak menyertakan data, fakta, dan pengalaman tentang bagaimana cara mewujudkannya sesungguhnya ia sedang mengumbar angan-angannya.

Kedua, saling-serang, perdebatan, dan apa pun yang dilakukan oleh kandidat dan pendukungnya didasarkan atas cara pandang lawan berkompetisi adalah kawan. Cara pandang seperti ini tidak akan membiarkan serangan tanpa ampun, dan tidak membolehkan tindakan mencederai lawan.

Pandangan lawan adalah kawan hanya mungkin diwujudkan bila cinta kasih masih hidup di tengah panasnya pertarungan. Pandangan ini pun hanya mungkin tumbuh bila kedua pihak memiliki kemauan kuat untuk menjaga marwah kompetisi. Dalam cerita Lutung Kasarung, filosofi buruk-buruk papan jati (baik-buruk saudara sendiri), telah membimbing Purbasari untuk tidak menjatuhkan hukuman mati kepada Purbararang, dan menggantinya dengan kerja sukarela.

Mengapa pandangan penuh kasih dibutuhkan untuk menatap kemenangan ? Tentu banyak alasannya. Satu alasan yang tetap aktual adalah keyakinan bahwa  mata yang penuh kasih sayang rabun terhadap kesalahan lawannya, sehingga sang pemenang takkan menggoreskan belati di atas luka yang masih menganga.

Ketiga,  persaingan merebut jabatan publik bukan pertarungan tanpa akhir. Artinya ketegangan hubungan antarkandidat dan para pendukung disudahi ketika hari pemilihan tiba. Belajarlah dari pemain bola, yang bisa saja saat bertanding dia bersitegang dengan pemain lawan, namun ketika peluit panjang dibunyikan mereka saling bersalaman.

Cacat dan cela  orang adalah lautan tak bertepi, sedangkan kebaikan kerap hadir seperti sumur yang harus digali biar menyemburkan air yang bening. Karena itu, berhentilah mengorek kesalahan lawan karena hanya akan menyisakan luka.

Membangun imej kandidat tidak sama dengan tindakan membalikan kasur. Seperti halnya rumus “cantik”, teknik pencitraan pun bukan formula matematika. Cantik dan baik bagi orang, belum tentu cocok dengan kita. Itulah sebabnya, bila terpaksa harus membumbui penampakan (appearance) dengan tindakan yang membuatnya tampak lebih baik, lakukanlah denan kadar yang wajar, sebab kebanyakan menabur pemanis (apalagi  pemanis buatan), hanya akan mempercepat datangnya penyakit.***

 

*) Tulisan ini pernah dimuat di Pikiran Rakyat, 29 April 2017.