oong komar

Logika Terbalik Untuk Penyelenggaraan Pendidikan Profesi Guru

Oong Komar

Departemen Pendidikan Luar Sekolah, Universitas Pendidikan Indonesia

Email: prof.oongkomar@upi.edu

 

Saat pendidikan guru S1 menggunakan sistem concurrent, yaitu berjalan bersamaan dalam satu masa antara mempelajari Ilmu Keguruan dengan mempelajari bahan ajar, maka lulusannya itu memperoleh ijazah S1 dan sekaligus memperoleh juga Akta Mengajar IV. Namun, seiring perkembangan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang mengatur pada level S1 untuk penguasaan kompetensi akademik keilmuan, sistem concurrent pada level S1 tidak cocok lagi, yang seolah termasuk level college/politeknik.

Sekarang  pendidikan guru S1 menggunakan sistem consecutive, yaitu berjalan berurutan dalam suatu rangkai level/jenjang yang bertalian antara mempelajari kompetensi akademik ilmu keguruan pada level S1 dengan mempelajari (baca: mempraktekan)  profesi guru pada level Pendidikan Profesi Guru (PPG), sehingga lulusannya memperoleh ijazah S1 dan dapat melanjutkan ke PPG untuk memperoleh sertifikat profesi pendidik dengan panggilan profesi “gr” (profesi berasal dari bahasa Latin, professionem, yang artinya “public declaration” atau pengumuman resmi kepada masyarakat). Namun, faktanya pemasok atau pemasok guru S1 masih menunjukkan kurikulum sistem concurrent. Selain itu, nama program studinya juga masih menggambarkan sistem concurrent. Bahkan lulusannya ada sebagian yang melanjutkan ke PPG.

Oleh karena itu, problematik faktual yang dihadapi, di antaranya: (1) lulusan S1 dari pemasok guru dibebani syarat tertentu (misal: telah mengikuti SM3T) untuk melanjutkan ke PPG, (2) lulusan S1 dari non pemasok guru dapat juga melanjutkan ke PPG.

Pengamatan sementara munculnya problematik faktual di dasarkan atas: (1) pemasok guru  belum konsisten menyelenggarakan pendidikan profesi guru dengan sistem consecutive, tetapi tetap masih menggunakan sistem concurrent yaitu bersamaan mempelajari Ilmu Keguruan dengan mempelajari bahan ajar. Misal pada kurikulum S1 pemasok guru belum menunjukan ke arah capaian kompetensi sistem consecutive dengan lulusan bergelar S.Pd. Dimana kondisi lulusan lebih kuat penguasaan kompetensi bahan ajar dari pada penguasaan kompetensi keguruan/pendidikan guna menyandang gelar S.Pd.  (2) guru mempersepsi mengenai bahan ajar sebagai bagian terpenting dalam konstruksi kompetensi guru. Sehingga dengan menjalankan sistem consecutive pada level S1, yaitu mempelajari kompetensi akademik ilmu keguruan secara murni dan konsisten, menuai sikap khawatir dari pihak tertentu mengenai kurangnya kompetensi lulusan dalam penguasaan bahan ajar. Selain itu, telah bermunculan pembentukan sejumlah asosiasi guru yang berdasarkan atas kelompok bahan ajar, misal MGMP per bidang studi, APENSI, dll; (3) dengan guru mempersepsi mengenai bahan ajar sebagai bagian terpenting dalam konstruksi kompetensi guru, maka membuka peluang lulusan S1 dari non pemasok guru dapat juga melanjutkan ke PPG.

Logika terbalik

Solusi yang kiranya tepat antara lain dengan logika terbalik, yaitu menjalankan pendidikan profesi guru dengan sistem consecutive pada level S1, yaitu menetapkan target capaian (learning outcome) pada kompetensi akademik ilmu keguruan secara murni dan konsisten. Kemudian pada level PPG (secara darurat) dapat menambahkan kompetensi penguasaan bahan ajar untuk meyakinkan pihak tertentu yang mengkhawatirkan lulusannya kurang kompeten dalam penguasaan bahan ajar.

Kekuatan logika terbalik yang mengkonstruksi pendidikan profesi guru pada level S1 mempelajari kompetensi akademik ilmu keguruan secara murni dan konsisten, kemudian lulusannya melanjutkan ke level PPG, antara lain dapat membendung lulusan S1 dari non pemasok guru  melanjutkan ke PPG. Berhubung pada level S1 tidak memfokuskan pada penguasaan kompetensi bahan ajar, tetapi memfokuskan pada penguasaan kompetensi keguruan/pendidikan guna daya dukung menyandang gelar S.Pd. Sementara kelemahannya mengalami kerancuan bila pada PPG masih menambahkan kompetensi penguasaan bahan ajar, dari yang semestinya praktik profesi keguruan.

Gagasan di atas akan memiliki perspektif karier profesi guru setelah menyandang panggilan profesi “gr” dengan melanjutkan pendidikan linier ke: (1) S2 program studi pendidikan keilmuan bahan ajar untuk memperoleh panggilan “gr” spesialis dalam kompetensi guru bidang studi tertentu, atau (2) S2 program studi ilmu pendidikan untuk memperoleh gelar M.Pd yang berkompetensi dalam pengelolaan/manajemen program-program pada satuan-satuan pendidikan, atau (3) S2 program studi disiplin ilmu untuk memperoleh gelar sesuai disiplin ilmu tersebut. Misal M.Si, M.H. M.Hum, dll. Yang berkompeten dalam disiplin ilmu yang bersangkutan.

Selain itu, pendidikan S3 linier atau program DOKTOR dengan melanjutkan sesuai program studi S2 yang ditempuh sebelumnya atau dapat juga secara silang program studi S2 yang ditempuh sebelumnya. Bahkan pendidikan S3 linier atau program DOKTOR yang melanjutkan S3 program studi ilmu pendidikan memperoleh gelar DOKTOR dan mungkin juga dapat mencantumkan panggilan tambahan selain “gr”, misal “kons” sebagai pakar konseling, “orto-ped” sebagai pakar pendidikan penyandang khusus, dll. Kompetensi S3 minimal dapat menumbuhkan gagasan mencari dan menemukan alternatif solusi praktek dan teori pendidikan untuk diimplementasikan agar kondisi penyelenggaraan pendidikan lebih baik lagi.