Elly-Malihah

Membangun Kampung Asia

Elly Malihah
Dosen Universitas Pendidikan Indonesia,
Pemateri pada One Asia Convention Phnompenh 2016

Berikut adalah catatan perjalanan penulis ketika bersama Tim berkesempatan mengunjungi One Asia Convention di Phnompenh Kamboja untuk mengikuti  Internasional Convention. Acara ini ini diadakan oleh One asia Fundation, yang merupakan acara tahunan.

Ada yang menarik dari convention kali ini, yaitu tema besar yang diusung adalah : Towards Asian Community : Present and Future Prospects of Education. Menarik karena  idiologi yang ingin dibangun oleh One Asia menuju Komunitas Asia tidak berdasarkan ekonomi ataupun politik dan pertahanan keamanan, melainkan melalui Pendidikan. Hal ini yang membedakan one asia foundation dengan berbagai gerakan sejenis, pelibatan sejumlah dosen, peneliti dari berbagai perguruan Tinggi Asia dan pemerhati pendidikan dari berbagai negara hadir di setiap convensi tahunannya.

Pendidikan diyakini mampu menjadi strategi yang ampuh untuk sosialisasi dan penetrasi sebuah cita-cita besar, melalui pendidikan penanaman nilai akan terlembaga secara rasional yang selanjutnya dapat menjadi sebuah pilihan sikap baik  untuk mengambil sebuah tindakan.

Tujuan one asia untuk membangun kampung Asia yang tidak terhalang oleh sekat  negara yang kaku menjadi  sebuah komunitas yang harmonis, memerlukan berbagai strategi, antara lain melalui kesepahaman global.

Membangun Kesepahaman Global

Realitas dan takdir sosial menunjukkan manusia terpolarisasi dalam berbagai keragaman, tentu tidak ada satu masyarakat yang dibangun atas keseragaman. Hikmah dibalik semuanya adalah terjadinya berbagai  keunikan bangsa dan suku di dunia  untuk saling berkenalan saling memahami satu sama lain.

Hasil penelitian penulis menunjukkan bahwa  pendidikan dan kerjasama internasional baik yang dibangun melalui kebijakan negara  (G to G)  maupun yang dibangun oleh masyarakat warga negara  melalui lembaga (pemerintah, swasta, NPO/NGO)  dan atau  individu masih merupakan cara yang efektif  untuk membangun kesepahaman global.

Sebagai instrumen mewujudkan kesepahaman global melalui pendidikan dan hubungan internasional, antara lain diperlukan : pertama kajian dalam mata pelajaran maupun mata kuliah yang membekali peserta didik akan wawasan hidup di tengah masyarakat dunia dengan terlebih dahulu memberikan wawasan dan pemantapan nasionalisme agar tetap berjati diri Indonesia atau mengakar pada tradisi; .kedua pemahaman hakikat pluralitas (keberagaman) budaya, juga toleransi beragama, pentingnya penguatan sosiabilitas yaitu suatu kemampuan keseimbangan hak dan kewajiban warga masyarakat, komunikasi dan dialog antar etnis, serta penting pula membangun pikiran positif. Ketiga, media yang dapat dipakai untuk membangun wawasan global itu antara lain: berbagai kegiatan seperti pertukaran pelajar/mahasiswa/pemuda baik melalui pendidikan, kesenian maupun olah raga  yang ditunjang oleh keterampilan berbahasa asing serta pengembangan pariwisata berbasis keanekaragaman budaya bangsa dunia dan tentu saja diperlukan sebuah even seperti one Asia Convention, Asia Culture Market, dll

Disamping itu, instrumen untuk mewujudkan kespahaman global terebut adalah dimilikinya Global Competence  (Kompetensi Global). Kompetensi Global dapat kita pahami sebagai kemampuan dan pengambilan peran untuk memahami dan melakukan tindakan atas berbagai masalah global yang signifikan.

Dari hasil diskusi dalam One Asia Convention 2016, setidaknya ada 4 Domain Global Kompetensi yang harus dibangun, yaitu  (1) Bagaimana memahami dunia secara menyeluruh  (2) Bagaimana memahami berbagai perspektif termasuk perbedaan pendapat dan idiologi (3)  Bagaima mengambil tindakan / aksi sebagai warga dunia; dan (4) Bagaimana kemampuan berkomuikasi menyampaikan ide/gagasan.

Untuk membangun sebuah komunitas global seperti  Kampung Asia, memang tidak semudah membalikan telapak tangan, namun ihtiar menuju harmonisasi bangsa kawasan Asia terus diupayakan melalui berbagai kegiatan yang digagas oleh One Asia Foundation. Ketertarikan penulis untuk ikut terlibat dalam kegiatan ini, karena hal ini sesuai dengan cita-cita negara Indonesia, yaitu antara lain  ikut serta mebangun perdamaian dunia berdasarkan kemerdekaan dan perdamaian abadi serta menghapuskan segala bentuk penjajahan di atas dunia.

Sebagai WNI,  untuk menjadi warga dunia yang baik, sebenarnya bisa kita mulai dengan menjadi warga negara yang baik, mengambil peran untuk membangun perdamaian dunia dalam lingkup di komunitas mana kita berada.

Demikian, beberapa pengalaman yang dapat penulis sampaikan, terakhir penting di implementasikan prinsip hubungan luar negeri Indonesia yang bebas aktif dengan prinsip “One Milion friends and Zero Enemy” untuk membangun Kesepahaman global. Prinsip tersbut dibangun untuk mempersiapkan generasi yang berwawasan global (world citizen) namun tetap berakar & berjati diri Indonesia dalam  keutuhan dan kedaultan NKRI, tentu prinsip ini  dengan tetap menjunjung harkat dan martabat bangsa dan  bukan dalam kerangka kumeok memeh dipacok. Tentang gagasan berjati diri lokal dan berwawasan global (Glokal) menjadi tema yang juga turut dibahas dalam Convention ini.***

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *