tri-indri-hardini

Pendidikan Budaya Literasi Anak Usia Sekolah Indonesia : Studi Banding Budaya Literasi Anak Usia Sekolah Di Perancis

Tri Indri Hardini – Departemen Pendidikan Bahasa Perancis FPBS UPI

tihardini@upi.edu

 

Pemerintah Indonesia kini sedang gencar mengupayakan peningkatan pendidikan budaya literasi untuk anak. Dalam upaya menumbuhkan budi pekerti siswa, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan gerakan literasi yang memiliki sub kegiatan amat beragam yang ada di setiap unit di bawahnya, seperti Gerakan Literasi Sekolah, Gerakan Nasional Literasi, dan Gerakan Nasional Literasi Bangsa. Gerakan ini bertujuan agar siswa memiliki budaya membaca dan menulis sehingga tercipta pembelajaran sepanjang hayat. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang dikembangkan berdasarkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti ini adalah sebuah upaya untuk menumbuhkan budi pekerti anak. Salah satu kegiatan GLS ini, sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar berbagai pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik.

Apa yang terjadi dengan anak-anak usia sekolah di Perancis tentang kebiasaan membaca mereka?

Hasil penelitian yang dilakukan oleh IPSOS, sebuah lembaga penelitian swasta Perancis yang melakukan penelitian untuk penerbit Gallimard – Perancis dan harian koran Le Parisien pada acara Montreuil Book Fair yang dilaksanakan di kota Montreuil, Perancis, mengungkapkan bahwa anak-anak Perancis tetap menyukai dan menikmati kegiatan membaca, walaupun pada saat yang sama layar telepon genggam atau layar komputer menyerang lingkungan anak-anak. Dengan demikian, buku-buku tetap memiliki  tempat khusus di mata anak-anak.

Anak-anak usia antara 7 dan 10 tahun mengatakan bahwa walaupun mereka menonton TV setiap hari, 78% dari mereka tetap melakukan aktivitas membaca. Aktivitas membaca ini dilakukan di mana-mana, baik di sekolah, di rumah, bahkan di mobil atau di transportasi umum. Sebagian besar dari mereka menyatakan bahwa pilihan bacaan mereka dibantu oleh orang tua atau guru, dan lebih dari 50% dari mereka senang membaca komik bergambar.

Lain halnya untuk anak-anak usia 11 tahun ke atas. Usia pra-remaja ini mengatakan bahwa mereka lebih menyukai aktivitas  berolahraga dan bermain video game daripada membaca. Namun, seperti yang dinyatakan Christine Baker, Direktur editorial Paris di Gallimard Jeunesse, anak perempuan pada usia antara 11 sampai 15 tahun memiliki kebiasaan membaca di malam hari, tidak seperti anak laki-laki yang lebih suka menonton TV. Namun, penerbit Perancis tidak menyerah, dan bahkan hal ini bagi mereka merupakan tantangan besar untuk dapat mengubah sudut pandang anak laki-laki dan menunjukkan kepada mereka bahwa kegiatan membaca lebih mengasyikan daripada bermain video game.

Rata-rata remaja Perancis membaca 14 buku dalam satu tahun.  Novel detektif dan karya-karya sejarah adalah genre favorit mereka. Sebanyak 45% remaja menyukai novel detektif, 32% menyukai buku-buku sejarah, 27% menyukai novel kontemporer dan sisanya 24% menyukai cerita fiksi ilmiah. 80% remaja Perancis mengatakan bahwa mereka “cinta membaca”. Remaja perempuan membaca lebih banyak (18 buku per tahun)  daripada remaja laki-laki (10 buku per tahun)  Walaupun e-book secara bertahap mulai beredar, namun bacaan berbasis kertas tetap dominan dan diminati.

Jika belajar dari kondisi budaya literasi di Perancis, terobosan penting Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang GLS ini hendaknya kita dukung penuh, dan melibatkan semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan, mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan. Pelibatan orang tua peserta didik dan masyarakat juga menjadi komponen penting dalam GLS. UPI sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan tentu saja harus berperan serta dalam menyukseskan program ini.

Lemahnya budaya literasi di kalangan peserta didik di Indonesia dapat dikatakan sebagai sebuah anomali dalam pendidikan karena kegiatan pembelajaran biasanya selalu direkatkan dengan kegiatan baca-tulis yang menjadi ciri kaum terpelajar atau cendekia. Kelemahan budaya literasi di Indonesia tampak dari data yang dirangkum Kompas (7 Februari 2017) yang menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001 persen di antara 250 juta penduduk Indonesia, hanya 250.000 orang yang memiliki minat baca (UNESCO, 2012), anak-anak Indonesia membaca hanya 27 halaman buku dalam satu tahun (UNESCO, 2014), kompetensi membaca belum meningkat signifikan, dari 396 poin pada tahun 2012 menjadi 397 poin pada tahun 2015 (PISA, 2015), 12 provinsi dan 28 kabupaten/kota di Indonesia minat baca masyarakatnya termasuk kategori rendah atau 25,1 (Kajian Perpustakaan Nasional, 2015), literasi Indonesia berada di peringkat ke-60, posisi kedua terbawah dari 61 negara yang diteliti (World Most Literate Nations, Central Connecticut State University, 201302014).

Apabila kita membandingkan tingkat literasi di Indonesia dan Perancis, sebaiknya kita membandingkan pula perkembangan tingkat pendidikan di kedua negara ini. Perancis sudah dengan tegap memasuki berbagai kemajuan ekonomi yang berimbas pada kemajuan pendidikan sejak Revolusi Industri yang terjadi di Eropa (Barat) pada abad ke-19. Bahkan, di paruh abad ke -19, Menteri Pendidikan Perancis, Jules Ferry, sudah mencanangkan jargon pendidikan, yaitu pendidikan wajib 12 tahun (école obligatoire), pendidikan gratis (école gratuite), laisitas pendidikan (école laïque). Jargon pendidikan yang dipertahankan sampai sekarang. Pada saat bersamaan Indonesia masih berada dalam okupasi penjajahan Belanda yang diteruskan Jepang dan baru berakhir pada tahun 1945. Perbedaan rentang waktu yang cukup jauh dan menjadi salah satu variabel pembeda tingkat literasi di kedua negara.

Sejak lebih dari tiga puluh tahun Indonesia mencanangkan Wajib Belajar Sembilan Tahun (Wajardikdas) yang hasilnya belum sepenuhnya berhasil. Berbagai upaya dikerahkan untuk mencapai target di atas. Pada sekitar lima tahun yang lalu, target Wajardikdas ditingkatkan menjadi dua belas tahun dengan tujuan untuk lebih meningkatkan daya saing bangsa. Pencanangan wajardikdas ini pada realitasnya masih belum didampingi oleh budaya literasi yang seharusnya menjadi bagian tidak terpisahkan dari kegiatan persekolahan. Literasi peserta didik lebih banyak dikalahkan oleh budaya mengakses informasi secara lisan.

Literasi sekolah yang masih rendah memberikan implikasi langsung pada tingkat literasi masyarakat yang juga rendah. Literasi sekolah yang diharapkan mampu membantu masyarakat yang belum tersentuh pendidikan formal, belum mampu membantu literasi masyarakat. Kondisi inilah yang sekarang dihadapi Indonesia di tengah berbagai tantangan kemajuan global yang serba kompetitif. Permendikbud tentang penumbuhan budi pekerti, selain memberikan pesan kebajikan bagi peserta didik, juga diharapkan secara langsung meningkatkan minat baca peserta didik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *