Sang Raja

KARIM SURYADI

Peneliti Komunikasi Politik, Dosen FPIPS UPI, Kolumnis Pikiran Rakyat

KUNJUNGAN Raja Salman ke tanah air menyedot perhatian publik. Bukan saja karena postur rombongan yang besar, atau agenda kunjungan yang terbilang penting, namun lebih karena beberapa alasan berikut. Kesatu,  Sang Raja adalah Khadimul Haramain as-Syarifain (Pelayan Dua Kota Suci), sekaligus pemelihara dua Masjid Suci, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Melebihi pengaruh sosial, politik, dan ekonomi di kancah dunia, emosi yang tersambung dengan Sang Raja lebih karena plasenta peribadatan. Meski tidak pernah bertemu, bahkan ketika berhaji atau umroh pun tidak berniat bertamu kepada Sang Raja, namun  rekam jejaknya dalam melayani dua kota suci terasakan dalam setiap helaan nafas setiap jamaah.

Kedua, bagi kebanyakan orang Indonesia, Arab Saudi adalah negara yang jauh di mata namun dekat di hati. Ziarah ke tanah suci adalah mimpi yang ditanam sejak kecil untuk menyempurnakan keimanan terhadap Islam. Tiada tempat yang terlantun dalam do’a permohonan untuk mengunjunginya berkali-kali selain mendatangi Makkah dan Madinah, “Ya Allah, Tuhan yang Maha Kuasa Mengembalikan, kembalikanlah aku ke Ka’bah ini dan berilah aku rizki untuk mengulanginya berkali-kali, dalam keadaan bertaubat dan beribadat, berlayar menuju Tuhan Kami sambil memuji…” Begitulah sebait do’a yang dipanjatkan saat tawaf wada, sesaat sebelum jamaah berpulang ke kampung halaman.

Dalam konteks ibadah haji, hubungan Indonesia dan Arab sudah berlangsung sejak masa kolonialisasi Belanda. Seperti tercatat dalam Indisch Verslag 1931 (Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama, Jatayu Sala, 1985) pemerintah Hindia Belanda mencatat jumlah jama’ah haji Indonesia yang terdaftar di Jeddah dari tahun 1900-1914 berjumlah 192.167 orang. Sedangkan dalam musim haji 1913-1914 jumlah haji Indonesia mencapai 28.427 orang, atau setengah dari jumlah haji dari seluruh penjuru dunia yang mencapai 56.855 orang.

Nyatanya jumlah jemaah haji asal Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Selain turut menyumbang kemakmuran Arab, jemaah haji asal Indonesia pun dapat bertindak sebagai “jembatan peradaban” antara kedua negara. Tak heran makin banyak peniruan corak pola dan gaya hidup terjadi di kedua belah pihak.

Ketiga, dalam pandangan yang dipenuhi prasangka baik, Arab Saudi dihubungkan dengan sifat makmur, dermawan, dan saleh. Ketiga kata sifat ini bukan hanya didengar berulang-ulang oleh jemaah haji yang tengah berada di Tanah Suci, tetapi juga tersampaikan lewat beragam bantuan yang diterima kelompok-kelompok masyarakat di Indonesia. Tidak mengherankan bila kunjungan Raja Salman yang juga membawa ratusan pengusaha Saudi dihubungkan dengan sejumlah projek yang ditawarkan.

Keempat, kedatangan Raja Salman berlangsung setelah 47 tahun lalu pendahulunya (Raja Faisal) berkunjung ke Indonesia. Dalam kurun waktu itu, Raja Arab silih berganti, namun baru kali ini kunjungan ke tanah air terjadi.

Tentu waktu kunjungan ini tidak akan hampa dari kalkulasi politik. Namun entah sebuah Cleopatra nose (kebetulan saja) atau bukan, Raja Salman datang ketika sebagian umat Islam di Indonesia gundah. Ribuan umat Islam menggelar aksi damai untuk meminta perhatian pemerintah, dan puluhan ulama gusar akibat munculnya wacana sertifikasi ulama. Sementara pada tataran global, Islam dihubungkan dengan teroris, seperti yang dianut Donald Trum yang melarang warga dari tujuh negara Islam masuk Amerika.

Tentu terlalu sumir menghubungkan kunjungan Raja Salman dengan kegundahan umat Islam di tanah air, meski bukan pula hal mustahil. Sebagai simbol kerajaan Islam, kedatangan Sang Raja sebagai sosok saja sudah mengandung pesan. Sebuah pesan yang menggunggah mata hati bangsa dan pemerintah Indonesia, ketika mata tertuju kepada Amerika dan China, kita lupa ada negara besar yang membuka pintunya untuk bekerja sama.

Alih-alih menyisakan trauma politik, hubungan dengan Arab telah menghasilkan persilangan budaya yang memperkaya peradaban kedua bangsa. Namun sebagai negara-bangsa yang berdaulat, dengan negara mana pun kita berhubungan tetap harus berani (meminjam istilah Soekarno pada pidato 15 Juli 1945, “menunjukkan keberanian kita dalam menjunjung hak kedaulatan bangsa kita”. Sebuah keberanian untuk mempertahankan harga diri dan marwah bangsa dari tarikan kepentingan negara lain.